Kamis, 22 Januari 2009

me and my childhood 2

sejak kecil aku dikenal sebagai seorang gadis kecil yang ceria, pemberani, cerewet, centil dan penuh percaya diri. Muara enim kota kecilku yang indah yang kaya akan sumber daya alam yang berlimpah telah membentuk karakter dan kepribadianku. Aku kembali ke kota itu, saat usiaku telah menginjak usia 4 tahun, tepat setelah ayahku menyelesaikan kuliahnya. kami sekeluarga memulai kehidupan baru kami disebuah rumah kecil yang telah disiapkan oleh nenekku sebelum kami tiba di kota kelahiranku itu.
Dirumah inilah semua kisah bermula, Rumah mungil dengan fasilitas nomor satu alias serba satu, kamar satu, dapur kecil satu, kamar mandi satu, dan ruang tamu satu. dan satu hal yang paling unik dari rumah itu adalah adanya lubang yang cukup besar di dinding depan rumahku, dining itu kemudian ditutup ayahku dengan papan. rumah kami memang sangat mungil tapi halaman rumahku sangatlah luas, dipenuhi hamparan rumput jepang dengan pohon jambu biji didekat sumur dan dua pohon jambu air membuat halaman rumahku menjadi surga bermain bagi semua anak kecil di lorong rumahku.
seperti halnya anak kecil lainnya aku juga mulai mengecap indahnya pendidikan taman kanak-kanak diusiaku yang 4 tahun akupun didaftarkan dikelas nol kecil tk perwanida.
aku masih ingat nama kepala sekolahku saat itu adalah ibu cik yun, beliau adalah orang yang berjasa mempercepat proses pendidikanku. bagaimana ceritanya??? ini dia !
semua berawal dari kecemasan ibuku yang melihat pesatnya pertumbuhan fisikku, meski baru berusia 4 tahun aku adalah anak terbesar di kelasku maka demi melihatku yang bertubuh bongsor ibukupun memohon keringanan untuk memindahkah aku langsung kekelas nol besar. agar kelak aku tidak menjadi siswa terbesar dikelas. denga alsan itulah kemudian program akselerasiku dimulai, akupun didaulat untuk pindah ke kelas nol besar.
sejak kecil aku sudah tergolong sebagai anak yang banci tampil, disetiap kesempatan aku selalu ingin tampil kedepan, karir kenarsisanku dmulai dengan puisi yang dikarang ayahku untukku. sebuah puisi yang kukumandangkan diatas meja guru disaksikan seluruh teman sekelas dan guru2ku yang lain. sebuah puisi yang menyadarkan ayahku betapa narsisnya, dan betapa sesugguhnya bakatku adalah BICARA... i born to be a public speaker !! many years later bakat inilah yang kemudian membawaku kesemua mozaik-mozaik terindah dalam hidupku, bakat ini adalah anugrah terindah yang dianugrahkan allah padaku hambanya yang dhoif, sebuah bakat yang harus kusadari, dan kusyukuri

Minggu, 18 Januari 2009

we will not go down

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they're dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who's wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die

We will not go down
In the night, without a fight

We will not go down
In Gaza tonight

Jumat, 16 Januari 2009

rasanya....

rasanya bukan dia, rasanya bukan dia yang kuinginkan menjadi pendampingku....semakin hari aku semakin dihadapkan pada kenyataan bahwa bukan dia yang kuinginkan... aku ingin seseorang yang mengerti aku, memahamiku dan mendukungku juga memberiku semangat saat aku terjatuh dan merasa terpuruk, seperti dia...., sayangnya ia tak bisa kumiliki. aku tak ingin lagi memaksakan semua ini, cukup sampai disini... rasa2nya aku menyerah sudah tak perlu dipertahankan lagi. tak perlu dicoba lagi biarkan yang ada diantara kami hanya hubungan silaturrahmi

Jumat, 09 Januari 2009

sepenggal doa untuk palestina.......

ya raab....
lindungilah mereka dari tangan-tangan durjana
kuatkanlah langkah mereka untuk tetap berdiri tegak di bumimu yang berdarah
janjikan surga pada mereka yang syahid membela kehormatan negara dari tangan penjajah
kabarkan pada mereka berita gembira, bahwa tempat mereka disisi nabi yang mulia

ya raab...
dimalam yang senyap dentuman dentuman roket israel telah melumat saudara-saudara kami yang tak bersalah.
maka kirimkanlah peringatanmu pada para pendusta yang telah melampaui batas itu.
beritahukan pada mereka bahwa adzabmu amatlah pedih.
bahwa kuasamu melebihi laut tak bertepi.

ya raab ...
di tanah para nabi, ribuan nyawa telah tersungkur
ribuan anak kehilangan ayah mereka
ribuan istri kehilangan suami
ribuan keluarga kehilangan tempat berteduh

maka... kami mohon padamu wahai yang luas rahmatnya, dan tinggi kuasanya
bukakanlah jalan untuk mereka keluar dari peperangan
tunjukkanlah kebenaran agar mereka dapat kembali mengecap ketentraman
agar tak perlu lagi ada kepedihan...kesedihan dan penderitaan

Kamis, 08 Januari 2009

Chapter 2. Me and my Childhood

Aku lahir dan dibesarkan dikota Muara Enim, Palembang Sumatra Selatan, Sebuah kota kecil yang menyimpan potensi alam dan budaya yang sangat besar. terkenal sebagai lumbung padi dan lumbung energi nasional membuat kampung halamanku begitu diperhitungkan di peta perekonomian tanah air. Maka tidak salah jika aku merasa begitu bangga telah dilahirkan ditanah yang begitu subur dan kaya.
Meski hampir kuhabiskan masa kecilku dikota itu, sempat pula kucicipi aroma ibukota sumsel, si cantik palembang pernah selama empat tahun menjadi persinggahan masa kecilku yang indah.
Ceritanya begini kawan, ayahku yang saat itu telah bekerja di KUA Gelumbang bermaksud melanjutkan studinya yang sempat tertunda diIAIN Raden Fatah palembang, maka jadilah aku dan segenap keluargaku yang terdiri dari ayahku, ibuku kakak lelakiku dan kakak perempuanku serta adikku yang pada saat itu sedang dalam kandungan ibuku boyongan kepalembang.
Berhubung nenekku mempunyai rumah di seputaran Lemabang, akhirnya kami sekeluarga menetap di Jl. Ramakasih 6 Lemabang Palembang.
Banyak kisah dan banyak cerita terukir dijalan ini, ada yang manis, asin, dan adapula yang menyakitkan... akan kumulai ceritaku kawan dengan bagian yang menyenangkan.
Adalah Candra Wijaya, pemuda kecil yang menjadi bagian tak terpisahkan dari mozaik kehidupanku di Palembang, ceritanya begini... Suatu hari aku dan saudara-saudaraku seperti biasa bermain diteras rumahku, hari itu entah darimana datangnya inspirasi itu, saudara perempuanku dan saudara perempuan Candra yang saat itu sebaya seperti halnya adik-adik mereka ini. berkonspirasi menggabungkan ide kreatif mereka untuk menggelar permainan yang disebut pengantin-pengantinan. maka kemudian terjadilah satu peristiwa yang melekatkan aku dan Candra sampai separuh hidup kami. Bagaimana bisa??? tentu saja bisa karena kamilah pasangan pengantin itu. kedua saudara kami merealisasikan permainan itu dengan memasangkan kami berdua untuk kemudian disuruh berdandan layaknya pengantin cilik. tidak cukup sampai disitu, kamipun dieksploitasi habis-habisan untuk mengikuti arahan mereka duduk ditangga teras, dan kawan-kawan yang lain pun disuruh menyalami kami layaknya tamu undangan disebuah pesta pernikahan.
Amboi... jika kuterkenang akan peristiwa itu timbul rasa lucu didalam dada tentang betapa polosnya kami berdua. belum lagi setelah peristiwa itu bahkan bertahun-tahun kemudian semua orang yang tinggal di Jalan itu mengenang kami sebagai pasangan pengantin cilik. lucu dan manis....lain halnya dengan kisah yang satu ini bagian ini kusebut bagian yang terasa menyakitkan... mengapa menyakitkan karena memang sakit... ceritanya begini. saat itu usiaku baru tiga tahun, usia balita yang memang sedang lincah-lincahnya. hal ini memang sering membuat ibuku khawatir apalagi mengingat kondisi dapur kami yang saat itu memang hanya terbuat dari papan-papan yang mulai lapuk. sampai pada suatu hari terjadilah peristiwa yang cukup seru tapi itu tadi menyakitkan bagiku.
hari itu seperti biasa ibuku sedang memasak untuk makan siang, sementara adik bungsuku yang baru berusia 1 tahun sedang tidur terlelap didalam kamar, kakak-kakakku pergi sekolah, dan ayahku pergi kekantor. sedangkan aku... bermain diruang tamu kemudian aku yang bosan dengan permainanku berlari-lari menuju dapur hendak menyusul ibuku yang sedang memasak, seperti yang telah kusinggung tadi kawan bahwa dapur rumah kami hanyalah terbuat dari papan yang lapuk, maka selang beberapa saat kemudian terjadilah peristiwa yang menyakitkan itu, akupun terjatuh diantara papan yang kebetulan berlubang, serta merta terdengarlah jeritan dari bibir mungilku, ibukupun segera menghampiriku, dan betapa kagetnya ibuku melihat keadaanku yang terperosok diantara kedua papan rusak dengan kondisi lutut terkoyak. dengan panik dan tanpa sempat berfikir apa-apa ibuku segera melarikanku kerumah sakit, ditengah perjalanan ibuku yang panik tiba-tiba teringat bahwa adikku masih tertinggal dirumah, terlelap di buaian, betapa cemasnya ibuku, namun untunglah saat itu mujur kakak tertuaku sedang berjalan pulang dari sekolah
" Indra!!" panggil ibuku, " Cepatlah Balik* Imam Umak tinggal dirumah, umak mau kerumah sakit rara jatuh didapur. Jaga rumah, jangan kemana-mana" pesan ibuku. sejenak ibuku merasa lebih tenang, diusapnya keningku yang terisak-isak menahan sakit.
belum habis masalah yang kutimbulkan, sesampainya dirumah sakit ibuku baru teringat bahwa uang yang tinggal didompetnya hanya sebesar dua ratus rupiah, pada zaman itu uang seratus rupiah hanya cukup untuk ongkos angkot dari rumah ke rumah sakit, praktis uang ibuku hanya cukup untuk ongkos pulang dan pergi saja. maka betapa resahnya ibuku ketika dokter memberitahu bahwa lututku harus dijahit apalagi ketika mendengar biaya penjahitannya menelan sekitar 5oo rupiah, nominal yang tidak kecil saat itu. namun tuhan selalu bersama orang-orang yang sabar, ibuku dipertemukan dengan seorang dokter yang baik hati yang bersedia memberikan pengobatan gratis (rahmatullah alaihim), Sehingga kemudian lututku yang sempat terkoyak bisa segera dijahit. peristiwa itu akhirnya meninggalkan kenang-kenangan berupa bekas putih di lututku... melihat bekas itu aku selalu terkenang akan kasih ibuku yang berjuang demi aku anaknya... satu mozaik lagi yang mengingatkan aku untuk semakin berbakti pada ibuku dan berusaha memberikan yang terbaik yang aku mampu untuk membahagiakannya.

Chapter 1: Me and my name

Namaku Rahmah Prajawati, usiaku 22 tahun sembilan bulan 4 hari... aku terlahir kedunia ini disuatu malam yang gelap dengan bintang dan bulan sebagai cahayanya, sebenarnya tak ada yang dramatis dari kelahiranku kejagad semesta raya ini tapi suatu fakta berbeda dari kelahiranku adalah, tidak seperti saudara-saudaraku yang kelahirannya didampingi oleh ayahku, ibuku harus berjuang sendirian disuatu malam yang gelap tanpa kehadiran orang terkasihnya itu, tapi janganlah salah faham kawan, dan jangan pula terlintas dalam benakmu bahwa ayahku adalah sosok tak bertanggung jawab atau apalah karena meninggalkan istri melawan maut seorang diri. Bukan kawan.... semua itu terjadi karena malam itu dimalam kelahiranku ayahku harus berada di Palembang untuk mengambil sumpah prajabatan... malam bersejarah yang akan dikenang dan diabadikan ayahku lewat namaku...
Rahmah Prajawati, sekilas nama itu hanya seperti nama orang kebanyakan, bahkan mungkin hanya dianggap remeh karena toh masih banyak nama-nama lain yang lebih bagus atau lebih mentereng dari nama itu. Tapi jika waktu dapat diputar kembali, dan aku terlempar kealam azali, dan seandainyapun tuhan memperbolehkan aku untuk memilih namaku sendiri, maka aku akan tetap memilih untuk terlahir dengan nama itu. Nama itu kawan adalah kenang-kenangan, prasasti dan simbol yang dilekatkan ayahku kepadaku sebagai pengingat bahwa dimalam aku dilahirkan, ayahku sedang prajabatan. ahai kulihat wajahmu sudah berkerut kebingungan otakmu mulai bertanya-tanya dibagian mana kiranya peristiwa itu melekat....oho! rupanya kau mulai mengerti...he...he benar peristiwa itu dirangkai ayahku lewat sebuah kata PRAJAWATI. ah tapi rupanya kau masih belum mengerti bagaimana caranya, baiklah kawan... biar kuperjelas. Banyak orang, awalnya mengira prajawati dinama belakangku itu mengisyaratkan makna yang bersifat
kejawa-jawaan atau kalau tidak, berhubungan dengan istilah kerajaan. Tapi ternyata , nama prajawati yang tersemat apik dibelakang kata RAHMAH itu bermakna PRAjabatanAkuWAktuITu, entah bagaimana ayahku memodifikasinya sehingga muncullah kata PRAJAWATI,
kawan, semakin dewasa... semakin aku banyak melupakan hal-hal berharga dalam hidupku, dan hari ini tanggal ini dan detik ini saat aku mengingat dan menuliskan kembali satu mozaik yang terserak dalam kehidupanku aku terkenang kembali bahwa sekejap pada masa dewasaku ini aku lupa bahwa kata RAHMAH dalam namaku itu berarti KASIH SAYANG...., nama yang diberikan padaku dengan harapan dan doa bahwa sepanjang hayat aku menjadi orang yang penuh kasih dan juga sayang, nama yang dituliskan dengan tinta cinta dan kasih yang takkan putus sepanjang zaman
Sekejap aku memang sudah lupa semua itu, entah sejak kapan aku menjelma durjana, entah berapa ikatan silahturrahmi yang kuputuskan, entah betapa banyak keacuhan yang kupertontonkan.....dan hari ini aku teringat kembali pada doa-doa yang bersemayam dalam namaku... kenangan yang tersirat didalamnya harapan dan keinginan yang diukir disana....tapi hari ini aku kembali teringat akan semuanya, dan saat aku mengingat semua itu aku ingin menangis karena pernah melupakan perasaan itu perasaan kasih dan juga sayang yang dulu pernah kutebarkan pada semua orang . hari ini aku mengingat semuanya.....

Chapter 1: Me and my name